08/09/09

INONG BALEE DALAM LINTASAN SEJARAH ACEH

WAA News – selasa 27/Januari/2009

Oleh, Mukhsin Rizal, S.Hum

Kerajaan Aceh Darussalam adalah kerajaan Islam yang berdiri setelah beberapa kerajaan kecil seperti kerajaan Samudra Pasai, kerajaan Pereulak, kerajaan Pedir yang bergabung dibawah Kerajaan Aceh Darussalam. Keberadaan kerajaaan Aceh Darussalam dimulai oleh Sultan Ali Mughayat Syah sebagai pendiri Kerajaan Aceh Darussalam.

Setelah berdirinya kerajaan ini maka sultan Alaidin Mughayat Syah mulai memperkuat dan memperluas kekuasaan kerajaan Aceh Darussalam dengan menyerang Portugis di kerajaan Daya (Aceh Jaya sekarang), berikut menyerang Portugis yang ada di kerajaan Pedir (Kabupaten Pidie sekarang), dan setelah itu menyerang Portugis yang ada di kerajaan Samudra Pasai (Geudong Aceh Utara sekarang), berikutnya ke kerajaan Pereulak, kerajaan Beuna, dan kerajan Aru di Sumatra Timur serta malaka di Semenajung Malaysia. Kerajaan Aceh Darussalam mencapai masa kejayaannya pada masa kepemimpinan sultan Iskandar Muda, namun demikian ada peristiwa menarik pada masa sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil (yang memerintah Kerajaan Aceh Darussalam mulai 997-1011 H atau 1589-1604 M) dimana pada masa sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil terjadi pertempuran antara armada selat malaka Aceh dengan armada Portugis. Didalam pertempuran tersebut sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil memimpin sendiri armadanya dengan dikawal oleh dua orang laksamana.

Pertempuran teluk Haru berakhir dengan hancurnya armada Portugis, sementara dua orang laksamana Aceh bersama seribu prajuritnya syahid, Kemenangan armada Selat Malaka Aceh atas armada Portugis disambut gembira oleh seluruh masyarakat Kerajaan Aceh Darussalam, namun demikian laksamana Malahayati merasa geram dan marah kepada Portugis mestipun peperangan dimenangkan oleh armada Aceh. Laksaman Malahayati adalah istri salah satu laksamana yang syahid dalam perang laut Haru tersebut. Laksamana Malahayati diangkat oleh sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil menjadi komandan protokol istana Darud Dunia.

Karena geram dan tidak senang terhadap Portugis kemudian Malahayati memohon kepada sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil agar membentuk sebuah armada Aceh yang prajurit–prajuritnya adalah para wanita janda, dimana suami mereka telah syahid dalam perang teluk haru, permohonan Laksamana Malahayati dikabulkan oleh sultan Alauddin Riayat syah Al-Mukammil dan laksamana Malahayati diangkat sebagai panglima armada tersebut. Armada ini kemudian disebut dengan sebutan armada Inong Balee (armada wanita janda) dengan mengambil teluk Krueng Raya sebagai pangkalan armada.

Bila ditelusuri Keumala Hayati (Laksamana Malahayati), sewaktu muda pernah mendapat pendidikan militer pada pusat pendidikan tentara Aceh yang bernama pusat pendidikan Asykar Baital Makdis. Para instrukturnya, antara lain terdiri dari para perwira Turki Usmani dalam rangka kerja sama dengan kerajaan Aceh Darussalam.

Malahayati memilih pendidikan angkatan laut, karena dalam tubuhnya telah mengalir darah prajurit laut. Ayah dan kakek laksamana Malahayati adalah para prajurit armada perang laut Aceh. Semangat dan kecintaan laksamana Malahayati terhadap laut Aceh dan kebenciannya terhadap Portugis serta kematian suaminya dimedan perang Haru menjadi latar belakang terbentuknya pasukan Inong Balee pada kerajaan Aceh Darussalam yang dibentuk pada masa sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil melalui izin yang diberikan kepada laksaman Malahayati untuk membentuk armada perang yang terdiri dari janda-janda yang telah ditinggalkan oleh suami mereka yang gugur dimedan perang dalam mempertahankan wilayah kerajaan Aceh Darussalam.

Sebelum armada Inong Balee turun Ke arena Perang Para pasukan Inong Balee Ini Diberikan Pelatihan Militer, yang dilatih oleh laksamana Malahayati agar kemudian para Inong Balee ini menjadi mahir dalam mengunakan senjata dan mampu mengendalikan kapal-kapal serta memiliki kemampuan fisik yang kuat sehingga menjadikan pasukan ini menjadi pasukan yang tangguh.

Latihan militer tersebut diberikan di benteng Inong Balee yang sekarang terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar untuk mencapai tempat tersebut kita harus melintas 1 kilo meter dari jalan krueng raya. Keberadaan benteng Inong Balee di tepi jurang dan dibawahnya terdapat pantai dengan batuan karang.

Benteng Inong Balee ini juga berfungsi sebagai benteng pertahanan sekaligus sebagai asrama penampungan para janda yang suaminya telah gugur dalam pertempuran. Selain itu juga digunakan sebagai tempat penempatan logistik perang. Dari posisi dan letak benteng Inong Balee sangatlah strategis sebagai wilayah pertahanan.

Pasukan Inong Balee yang dibentuk oleh sultan Alauddin Riayat syah Al- Mukammil merupakan armada perang yang semua personilnya terdiri dari para janda–janda yang ditinggalkan oleh suaminya, pasukan Inong Balee ini di pimpin oleh laksamana Malahayati.

Nama armada Inong Balee inilah juga yang kemudian menjadi nama sebuah kesatuan dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh yang seluruh anggotanya terdiri dari para perempuan-perempuan Aceh, Baik yang sudah menikah maupun yang masih gadis.

Setelah terbentuknya armada Inong Balee yang terdiri dari para janda, maka berikutnya adalah peran armada ini dalam mempertahankan Kerajaan Aceh Darussalam, armada ini sangat berjasa dalam menjaga laut Aceh dari penjajahan Portugis yang ingin menguasai wilayah Aceh dan mengambil kekayaan Aceh dengan langkah pertama yang coba dirintis yaitu menguasai laut sebagai jalur transportasi pada saat itu.

Salah satu peristiwa yang mengangkat nama Malahayati adalah peristiwa Houtman bersaudara, Ketangguhan armada yang dipimpin oleh laksamana Malahayati membuat portugis dan negara Eropa lainnya risih, karena armada Inong Balee Aceh telah memiliki seratus buah kapal perang, yang setiap kapal dilengkapi dengan meriam-meriam dan lila-lila.

Kapal terbesar dilengkapi dengan lima meriam. Untuk ukuran zaman itu, armada Inong Balee dipandang sebagai armada yang kuat di selat malaka bahkan di samudra Asia Tenggara, seperti yang di jelaskan oleh Deny Lembarddalam bukunya kerajaan Aceh dizaman Iskandar Muda.

Laksamana Malahayati adalah anak dari laksamana Mahmud Syah Bin- Laksaman Muhammad Said Syah, bin Sultan Salahuddin Syah (memerintah Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 936 sampai dengan 945 H atau 1530 sampai dengan 1539 M).

Kegagahan dan ketangguhan Malahayati dan armada nya telah terbukti dimana pada tanggal 21 juni 1599 M pasukan Belanda yang dikepalai oleh Cornelis de houtman dan Frederijk de houtman, diserbu oleh pasukan Inong Balee karena kedua bersaudara yang memimpin pasukannya berkhianat terhadap pemerintahan kerajaan Aceh yaitu dengan menyamarkan kapal perang menjadikannya kapal dagang, oleh sebab itu maka atas kejelian armada Aceh diketahuilah niat Cornelis de houtman dan Frederijk de houtman, sehingga armada Inong Balee menyerang pasukan Belanda tersebut.

Akhirnya Cornelis de houtman mati ditikam oleh laksamana Malahayati dengan rencongnya sedangkan saudaranya Frederijk de houtman ditawan oleh armada Inong Balee dan diserahkan Kerajaan Aceh Darussalam. Seorang penulis wanita, Marie van zeggelen, dalam bukunya: Oud Glorie, antara lain menulis yang diterjemahkan sebagai berikut: ” Dikapal van leeuw telah dibunuh cornelis de houtman dan anak buahnya oleh laksamana malahayati sendiri, sementara sekretaris rahasianya menyerang frederijk de houtman dan ditawan nya serta dibawa kedarat. Davis dan tomkins menderita luka...”

Selain itu di Kerajaan Aceh Darussalam dikenal juga dengan nama sukey Inong kaway istana atau resimen wanita pengawal istana yang dibentuk oleh Sultan Muda Ali Riayatsyah V (Memerintah dalam tahun 1011 sampai dengan tahun 1015 H atau 1604 sampai dengan tahun 607 M). Semuanya terdiri dari wanita, baik yang masih gadis maupun wanita muda yang telah bersuami dan sukey ini dipercaya oleh sultan untuk mengawal kerajaan Darud Dunia.

Hal ini membuktikan bahwa di Aceh telah adanya suatu penghargaan terhadap perempuan, sehingga perempuan selalu mengambil andil di dalam perpolitikan Aceh sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam hingga sekarang. Tidak ada perbedaan yang mendasar antara laki-laki dan perempuan yang ada hanyalah perbedaan bentuk jenis kelamin yang kemudian membedakan fungsi perempuan dalam kehidupan biologis.

Di dalam rentetan sejarah sering terdengar nama-nama besar para wanita Aceh sebagai orang yang berperan secara langsung maupun tidak langsung dalam berbagi upaya perjuangan hak-hak Aceh, misalkan Tengku Fatimah, Pocut Baren, Tengku Fakinah, Pocut Meurah Intan, yang oleh kita perlu mengabadikan semangat perlawanan mereka, Mereka adalah beberapa wanita Aceh yang memperjuangkan Aceh dan masih banyak perempuan lainnya yang setia akan kemerdekaan Aceh dan kejayaan Aceh sebagai negara yang berdaulat. Tradisi militer perempuan Aceh kemudian terus berkembang hingga sultan Iskandar Muda memerintah Kerajaan Aceh Darussalam Aceh (1607-1636 M), sehingga sampai pada tahun 1873 Belanda memaklumatkan perang dengan kerajan Aceh Darussalam, patriotisme perempuan Aceh yang begitu besar juga terlihat pada masa perang dengan Belanda. Demikian rindangnya sejarah Aceh, dan peran perempuan Aceh dalam lingkaran sejarah khususnya pasukan inong balee yang telah menyisakan monumen sejarahnya di Aceh. Jika boleh kiranya pemerintah memperhatikan hal ini semua. Namun sangat sangat disayangkan sampai sekarang pelestarian aset sejarah tersebut tidak juga di perhatikan secara serius. Tidak hanya benteng inong balee tetapi masih banyak aset sejarah aceh lainnya yang tidak mendapat perhatian serius. Melalui tulisan ini penulis mengajak seluruh elemen masyarakat untuk peduli terhadap peninggalan sejarah Aceh. Karena itu semua adalah identitas fisik Aceh masa lalu.

Penulis Mukhsin Rizal, S.Hum adalah alumni Fakultas Adab IAIN Ar-Raniry

Dongeng Pendidikan Aceh

Oleh Ampuh Devayan

2 August 2009, 08:34 Panteue Administrator

MAU dengar dongeng pendidikan Aceh? Simak saja ringkih keluh anak-anak “lolos” alias tak terjaring di SNMPTN yang diumumkan lewat koran kemarin. Ironinya lagi, ranking secara nasional berada di urutan 33 (nomor 2 dari belakang) setelah Papua. Nervous, sebagai prestise mengagumkan dalam sejarah pendidikan di Aceh. Cuma bila dipandang dalam terminologi agama, termasuk katagori “terkutuk” karena mutu sekarang lebih buruk dari sebelumnya. Siapa yang hendak kita tuding atas dosa generasi ini? Saya katakan terpundak pada lembaga teknis (dinas pendidikan) dan sekolah . Kecuali itu, kita orangtua pun selalu “menghitam-putihkan” pendidikan anak-anak kepada sekolah. Apalagi ada sikap sebagian orangtua yang bila anaknya berhasil, berdalih karena sianak memang pintar sendiri. Namun jika anaknya bodoh, gurulah yang bersalah. Ternyata, banyak orangtua kurang menghargai jasa guru. Lain lagi, lembaga teknis pendidikan (saya tak berani menyebut Dinas) sangat kurang apresiasi atas kedaulatan guru selama ini. Guru sendiri pun masih menganggap pekerjaannya adalah sekedar makan gaji. Guru hanya melakukan proses KBM sekedar kewajiban, belum menjadi kebajikan. Guru masih sering bersikap bukan mengajar anak-anak justru menghajarnya bertambah kurang ajar. Guru belum memposisikan diri sebagai pendidik di sekolah, tapi cenderung menjadi penyidik dengan wajah menyeramkan. Sekarang buah dari proses pendidikan yang dilakonkan itu sudah kita lihat nyata. Sistem yang dibangun para pengelola teknis pendidikan hanya sekedar menargetkan prestise sudah terindikasi. Lihat saja anak-anak lulusan SMA di Aceh yang berhasil lulus UMB (Ujian Masuk Bersama) PTN hanya sekitar 20 persen, selebihnya anak-anak dari luar Aceh. Hal sama juga diamati pada SNMPT, hampir, semua fakultas favorit yang di Unsyiah, misal, masih didominasi anak-anak yang berasal dari SMA di luar Aceh. Maka sekarang marilah bertanya, mana itu produk sekolah unggulan, sekolah mandiri, sekolah reguler favorit yang selama ini kita dongengkan. Apalagi, kita pun sudah berbangga-bangga bahwa Aceh lulus 90 persen Ujian Nasional (UN). Namun jangankan bisa menerobos ke luar, melewati “besitang” (nama daerah perbatasan Sumatera Utara) saja belum bisa, bahkan anak-anak lulus SMA Aceh tersisih di kandangnya sendiri. Tentu, saya tak menafikan bahwa ada satu-dua yang lulus karena memang unggul, atau ada juga yang diketahui lulus SMPNT meskipun anak bodoh, tapi ada factor “X” yang mengawalnya di belakang sehingga bisa lulus. Dan itu kita anggap “kelainan”. Bias pandang atas eksistensi pendidikan di Aceh selama ini sebagai kesalahan kolektif yang mesti disadari para pengelola pendidikan. Ironi, kebobrokan mutu ajar justru terjadi ketika daerah ini sudah pulih dari konflik dan bencana; terjadi ketika uang yang dialokasikan untuk sector pendidikan melimpah ruah. Tentu ada yang stagnan, karena kelulusan UN 2009 yang melebihi 90 persen, ternyata sama sekali tidak berkorelasi dengan tingkat kelulusan siswa di SNMPT, bahkan rangkin kelulusan secara nasional berada di urutan corot. Kadang saya suka berpikir nakal, sehingga menduga tingginya kelulusan UN--boleh jadi sebagai rekayasa untuk menunjukkan suatu prestise atau biar dilihat “kita hebat” atau ada ungkapan sebagai menjaga “marwah bangsa”. Maka berbagai cara pun bisa dilakukan. Inilah penyakit menahun yang makin akut menjadi endemi di negeri kita, diidap para pejabat atau mereka yang diberi amanah oleh kita rakyat biasa ini. Ada benarnya ngocehan Sayuthi, ketua Kobar GB (guru bersatu) Aceh dalam forum seminar yang dihadiri seribuan guru di gedung sosial Aceh, beberapa waktu lalu. Katanya, guru-guru dikerahkan untuk membantu jawaban anak-anak ketika UN, itu sama saja menistakan kedaulatan kaum guru. Dan untuk apa UN karena sama saja telah menggiring untuk mengajarkan anak-anak menjadi malas, akhirnya menciptakan generasi bangsa pengemis. “Kenapa tidak, anak-anak tak perlu susah-susah, toh akhirnya ketika UN akan dibantu guru yang dikerahkan secara sistemis oleh lembaga,” ujarnya. Jika benar apa yang diungkapkannya itu, maka betul pula asumsi Anas M Adam, yang menulis (opini Serambi, Mai 2009) bahwa sebenarnya yang sangat takut UN adalah kepala dinas, kepala sekolah, atau guru, karena mereka bisa dikritik masyarakat atau hilang jabatan. Mengamati realitas saat ini, mutu pendidikan Aceh ibarat dongeng pengantar tidur untuk bisa bermimpi-mimpi. Hirarki dalam kelembagaan pendidikan cenderung melanggengkan sikap feodal, telah menumbuhkan sikap aristokrat daripada sikap demokrat. Di bawah hegemoni kekuasaan sistem pendidikan telah melahirkan para ‘agen intelektual’ atau commissars , menurut Noam Chomsky, yang hidupnya bergantung dan caranya melayani kepentingan atau memenuhi kebutuhan penguasa. Tugas para ‘agen intelektual adalah mereproduksi pengetahuan atau kebenaran para penguasa Masih panjang sebenarnya rentetan kritik dan analisis yang memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan dari sistem pendidikan Aceh saat ini. Sayangnya, bagi kaum skeptis sudah jelas bahwa ketika kritik muncul maka hanya menjadi penunggu tong sampah. Artinya penyelenggara pendidikan formal telah mengabaikan kehendak masyarakat. Tidak berlebihan kalau kemudian masyarakat yang merasa diabaikan, karena Negara telah gagal memberikan pelayanan pendidikan tebaik bagi masyarakatnya. Sejatinya pendidikan yang berfungsi untuk mencerdaskan anak bangsa, namun dikotori dengan berbagai intrik dan kehendak politik dimana-mana. Akhirnya, kebobrokan atas pendidikan bagaikan kentut yang tak berbunyi dan tak berbentuk namun baunya menyengat kemana-mana. Maka kita akan menyaksikan generasi bangsa Aceh sedang menuju lorong kelam yang sesak dongeng atmosfer kebangkitan dalam mimpi.

07/09/09

HEBATKAH PEMERINTAH ACEH

Tiga tahun lebih sudah Pemerintah Aceh dibawah kepemimpinan irwandi dan muhammad nazar berkuasa, beberapa program telah terjalankan dan dalam pelaksanaannya telah memberikan beberapa muatan kepentingan kedepan ..... 1. apakah pemerintah telah berhasil disektor pendidikan ? 2. apakah Pemerintah Aceh serius menangani sektor pendidikan di Aceh ? 3. apakah Seleksi beasiswa S2 tepat sasaran ? kirimkan pendapat anda ke Email : mukhsin_rizal@yahoo.com karena pendidikan kita harus bicara walau selemah lemah-lemah daya.