22/10/09
Limapuluh Tahun Pendidikan Aceh (bagian kedua) Oleh Dr Hasballah Saad
DI tahun 1930-an, perang dengan Belanda baru mereda. Namun perlawanan masih terjadi di sana sini.Kondisi pendidikan Aceh waktu itu sudah porak poranda. Para ulama yang meminpin dayah dan madrasah telah lama bergabung dalam lasykar mujahidin melawan Belanda. Banyak di antara mereka gugur dalam seuh prang sebagai syuhada. Dayah banyak yang hancur, santrinya bergabung menjadi para pejuang bersama guru dan saudaranya di hutan hutan pedalaman Aceh.
Dalam keadaan demikian, Tuwanku Raja Keumala, yakni putra Tuwanku Hasyim Bangta Muda merintis satu madrasah yang sebelumnya berada di pelanggahan, dipindahkan ke belakang Mesjid Raya Baiturrahman. Upaya ini dimaksudkan selain karena banyak lembaga dayah hancur juga untuk modernisasi pendidikan meskipun dalam praktiknya baru sebatas cara, dan belum banyak menyentuh substansi bahan yang dipelajari.
Madrasah ini diberi nama Jamiatul Khairiyah. Tuwanku Raja Keumala memulai sistem sekolah modern dengan membolehkan santri memakai kursi dan meja, serta menulis pelajaran di kelas. Mata pelajaran masih saja terdiri dari studi agama, seperti hadist, tafsir, akhlak, dsb Tahun 1936, Teuku Bentara Pineueng Brahim, mengundang Tgk Daud Beureu-eh yang sedang dalam pengusiran oleh Teuku Keumangan Umar hulubalang Beureunuen, untuk bersedia menetap di Blang Paseh Sigli. Ampon Syik Bentara mempelopori berdirinya Madrasah Sa’adah Adabiyah yang dipimpin Daud Beureu-eh muda itu. Belakangan madrasah ini terkenal dengan nama Sekolah Blang Paseh dan melahirkan para pemimpin rakyat di hampir seluruh pelosok Aceh waktu itu.
Setahun kemudian sekitar tahun 1937, seusai pesta perkawinan putri Teuku Johar Alamsyah, hulubangan Peusangan di Matang Gulumpang Dua, bekas bangunan tempat pesta perkawinan itu dibongkar dan dijadikan gedung sekolah. Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap, ulama setempat yang menjadi kepercayaan Teuku Johar Alamsyah diminta mengurus sekolah itu yang diberi nama Madrasah Al-Muslim berkedukan di Matang Geulumpang Dua kenegerian Peusangan. Kedua madrasah ini mengikuti apa yang diperkenalkan Tuwanku Raja Keumala, yakni mengunakan bangku dan meja tempat belajar agama, bukan lagi dengan sistem sorogan dimana santri duduk bersila dengan memakai sarong di depan guru untuk mengaji kitab dan qur’an.
Untuk kelanjutan pendidikan rendah pada tingkat madrasah itu, Teungku Daud Beureu-eh, kemudian mengambil inisiatif mendirikan Sekolah Menengah Islam (SMI) di Bireuen yang diberi nama Sekolah Noormal Bireuen. Para guru sekolah ini terdiri dari para intelektual Aceh masa itu, dan sahabat seperjuangan Beureu-eh, antara lain Ustaz Muhammad Noor el-Ibrahimy (menantu kesayangan dan teman sejawat Daud Beureu-eh) dan Abdul Gani Usman alias Ayah Gani Seulimuem, yang merupakan sahabat dan teman seperjuangan Daud semasa perjuangan pra dan pasca kemerdekaan di Aceh, dan berlanjut dalam Pergerakan Darul Islam di Aceh tahun 1953 dulu.
Setelah itu berturut turt lahirlah Ma’had Iskandar Muda (MIM) di Lampaku, atas inisiatif Teuku Panglima Polem Muhammad Daud, hulubalang XXII Mukim. Di Montasiek, Tgk Ibrahim Ayahanda dkk, mempelopori berdirinya madrasah yang diberi nama Jamiatul Diniyah Montasiek atau disingkat JADAM Montasiek. Di Pidie, Teuku Pakeh Mahmud mendirikan pula Madrasah yang diberi nama Madrasah Al-Mahmudiah di Peukan Pidie, yang bangunan nya dekat stadion Blang Asan, masih dipakai hingga sekarang ini.
Saya mencatat bahwa pembaharuan pendidikan di Aceh, setalah zaman keemasan pada abad ke 17 dimasa Hamzah al-Fansury, Abdurrauf as-Singkily, dan Syamsuddin as-Sumatrany, Nuruddin Ar-Raniry dan para ulama besar lainnya, maka Tuwanku Raja Keumala dan para pengikut seperti Teuku Bentara Pineueng Brahim, Teuku Johar Alamsyah, Teuku Panglima Polem Muhammad Daud, Teuku Faqih Mahmud, Tgk Ibrahim Ayahanda, dengan dukungan penuh dari para ulama seperti Daud Beureu-eh, Abdurrahman Meunasah Meucap, Ustaz Noor el-Ibrahimy dll merupakan pendiri tongggak sejarah baru pendidikan di Aceh gelombang kedua. Sebebelum itu dunia pendidikan Aceh yang hampir seluruhnya berbentuk dayah dan madrasah (pesantren) telah mengalami masa kehancuran karena prang yang tak kunjung reda sejak 1873, tatkala Belanda memasuki Aceh melalui pantai Meuraksa di Ulee Lheue.
Jika zaman Syiah Kuala dan kawan kawannya pada penghujung abad ke 16 disebut masa kejayaan sejarah pendidikan di Aceh gelombang pertama, maka masa yang diawali oleh Tuwanku Raja Keumala dan kawan kawannya itu merupakan tonggak sejarah kejayaan pendidikan di Aceh gelombang kedua. Lalu dimana tonggak sejarah kejayaan sejarah pendidikan Aceh gelombang ketiga? Mengutip se bait lirik-lagu yang diciptakan pada tahun 1959 lalu, yakni :
Tanggal dua bulan Sembilan
Menjadi peringatan
Hari kebangunan Pendidikan
Budi serta Budaya ….
Agaknya itu yang boleh dipandang sebagai tonggak sejarah baru kebangkitan pendidikan di Aceh gelombang ketiga. Pada tahun 1959 itu Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala didirikan, dan Dr Teuku Iskandar menjadi acting (penjabat) dekan pertama. Iskandar, lulusan Universitas Leiden dalam bidang sastra dan sejarah, dan bukan seorang ekonom. Setelah itu dibentuklah beberapa fakultas lain seperti Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP) dll, dan jadilah sebuah universitas yang diberi nama Universitas Syiah Kuala. Kolonel Jasin (waktu itu menjabat Panglima Kodam Iskandar Muda) menjadi ketua presidium pertama.
Berturut-turut kemudian lahir IAIN Jamiah ar-Raniry yang semula merupakan cabang IAIN Sumatra Utara. Belakangan dari itu Dayah Tingi Tgk Syik Psnte Kulu pun didirikan. Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) pun didirikan pemerintah daerah di Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam itu. Maka tak heran jika kemudian Prof Ali Hasjmy menjuluki Kopelma Darussalam itu sebagai jantung hati rakyat Aceh.
Darussalam, mencerminkan keutuhan konsep yang menyatu sebagai suatu cita-cita pendidikan untuk mewujudkan masa depan yang bertumpu kepada desain perbaikan dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia Aceh yang utuh, harmonis, padu dan konprehensif, untuk Aceh yang akan datang. Disusul lahirnya lahirlah angkatan Darussalam dari induk yang bernama Kopelma Darussalam. Di Universitas Syiah Kuala antara lain kita kenal nama-nama seperti Teuku Hamid, Said Hasan Ba’abud, Tabrani Ibrahim, Nurdin AR, Misbach Hasan, Ali Basyah Amin, Kaoy Syah, Mahmud Madjid, Aminah Ahmad, Gani Hanafiah, Syamsuddin Bransah, dll berkat asuhan para perintis seperti A Madjid Ibrahim, Teuku Risyad, Ibrahim Hasan, Syamsuddin Mahmud, Syamsuddin Ishak, Pattianom, Abdul Hamid Ahmad, Abidin Hasyim, Soemarmo, Abdullah Ali, Soedarsono, Haryoto dll. Di IAIN dikenal pula nama nama seperti Abdul Fatah, Safwan Idris, Rusjdi Ali Muhammad, A Raman Kaoy, Azman Ismail, Yusni Sabi, Daud Remantan, Syahbudin Mahyiddin, dll berkat asuhan para perintisnya antara lain Tgk Ismuha, Ibrahim Husen, Akta MA, Tgk Usman Yahya Tiba, Ahmad Daudy, Muhammad Ali Muhammad (dikenal dengan lakab Ali in between), Abdullah Arif, Taher Harun, Said Mahmud AR, disamping tokoh sentral Ali Hasjmy sendiri.
Apa yang bisa dicatat dari sejarah panjang perjalanan dunia pendidiarikan di Aceh sejak zaman keemasan abad ke 17, yang ditandai oleh banyak karya agung dan monumental dari para ulama dan intelektual Aceh masa itu? Untuk diketahui bahwa karya karya Hamzah al-Fanssury, Syamsuddin as-Sumatrani, Nuruddin ar-Raniry, Abdurrauf as-Singkily, dan banyak lagi para inteketual Aceh setelah itu seperti Tgk Syik Pante Geulima, Tgk Syik Kuta Karang, Tgk Syik Tanoh Abee, Tgk Syik Pante Kulu dll, telah menghantarkan Aceh pada kedudukan satu dari lima besar pusat peradaban Islam dunia, yakni Marokko (Tunisia), Isfahan (Persia) Agra (India), Istambul (Turki) dan Aceh Darusalam.
Ikhtiar apa zaman keemasan itu dapat digapai kembali? Maka hari menjelang genap lima puluh tahun tonggak kebangkitan dunia pendidikan Aceh gelombang ketiga dipancangkan, yang ditandai oleh pembukaan selubung tugu Darussalam oleh Presiden Soekarno pada 2 September 1959, maka layaklah sejenak kita menoleh kembali jejak perjalanan kita. Belajar dan menoleh kepada sejarah akan mengantarakan kita kepada kearifan, terhindar dari kekeliruan, dan belajar dari pengalaman untuk meramu masa depan yang lebih baik dan bermartabat.
Pada dataran kebijakan terlihat bahwa semua elemen masyarakat Aceh sama menginginkan satu kebijakan pendidikan yang bisa menjawab kebutuhan masa depan. Misal, adanya kebijakan pendidikan berbasis nilai islami sebagai kebijakan politik pemerintah Aceh, yang tertuang dalam buku rencana strategis pendidian Aceh 2007-2012. Meskipun saya berkeyakinan kebijakan resmi itu masih memerlukan peninjauan ulang dan perbaikan disesuaikan dengan kebutuhan kita sebagai acuan dalam menapaki masa depan yang jauh terbentang dihadapan kita.
Pada dataran institusi, dibandingkan dengan 50 tahun lalu, kini Aceh telah memiliki hampir semua jenis lembaga pendidikan yang dibutuhkan dan hampir memadai. Sedang tataran individual, banyak sarjana hingga bergelar doktor telah kita miliki, sebagai human capital untuk pembangunan Aceh Baru. Sebagian besar sumberdaya lulusan Darussalam telah mampu mengisi posisi penting di Aceh dan beberapa di luar Aceh. Mereka tersebar di sektor pemerintah dan swasta, dan lebih banyak lagi di perguruan tinggi negeri dan swasta yang berkembang di Aceh dewasa ini.
Namun mungkin masih ada sesuatu yang salah, sehingga terkesan dunia pendidikan di Aceh, yang seyogianya akan memasuki phase kebangkitan keempat, tak terkait dan semakin jauh dari visi-misi yang dulu pernah diandalkan. Banyak di antara para lulusan Darussalam, terkesan kurang terintegrasi antara kemampuan pengetahuan, akhlak mulia dan budi luhur dalam suatu pribadi yang utuh seperti yang diimpikan oleh para penggagas Darussalam dulu. Gegap gempita nyanyian dalam bait dan lirik lagu : disini kami belajar, memperkaya iman…., disini kami mengabdi….. ingin menjadi manusia yang berpengetahuan luas, berakhlak muklia, dan berbudi luhur, sudah tidak lagiu bergema dalam batin kita, dan sepertinya bukan lagi menjadi rujukan dan acuan kualitas alumni kita. Malah rumusan normative itu, seperti justru sudah kita lupakan!
Beberapa yang menimpa para sejawat, alumni, teman sepermainan, kolega kita para alumni Darussalam menunjkkan fenomena yang memprihatinkan. Ini menyangkut masalah personal-individual yang termakan system, dan cenderung menjadi korban lingkungan, karena integritas pribadi yang rapuh dan sudah kehilangan referensi normatif yang dulu sangat kita banggakan. Penjara dan rumah tahanan seperti cenderung menjadi ujung terakhir dari perjalana karir cemerlang yang sebelumnya sudah dicapai!
Fenomena lain yang sangat mencolok mata adalah manakala kita menoleh kepada behavior para lulusan lembaga pendidikan yang menjadi kebanggan rakyat Aceh itu, yang oleh Ali Hasjmy diistilahkan bagai mata putih dengan mata hitam sebagai perumpamaan hubungan antara Unsyiah dan IAIN. Juga sejumlah pimpinan daerah, maupun pimpinan lembaga politik dan pemerintahandi Aceh yang nota-bene adalah lulusan lembaga pendidikan kita sendiri, telah tergoda dengan arus budaya korupsi yang amat merusak. Sekarang, apakah ada alasan bagi kita semua di hari-hari yang akan datang ini untuk berharap bahwa keadaan akan berubah, dan masa depan Aceh Baru dapat kita raih dengan lebih bermartabat, labih makmur, lebih adil dan lebih sejahtera?
* Penulis adalah lektor kepala di FKIP Unsyiah. Ketua Dewan Pembina Aceh Cultural Institute (ACI), aktif sebagai anggota Pengurus MPD Aceh.
